• Sabtu, 23 September 2023

Apa Itu Sistem Proporsional Tertutup? Ini Bedanya dengan Sistem Proporsional Terbuka dalam Pemilu Legislatif

- Kamis, 1 Juni 2023 | 09:41 WIB
Ilustrasi sistem proporsional tertutup dan terbuka dalam pemilu legislatif (Freepik/pch.vector)
Ilustrasi sistem proporsional tertutup dan terbuka dalam pemilu legislatif (Freepik/pch.vector)

PortalYogya.com - Heboh, bocoran putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terungkap yang menyatakan pemilu akan memakai sistem proporsional tertutup.

Bocoran putusan MK tentang sistem proporsional tertutup ini diungkapkan oleh mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) Denny Indrayana.

Menurut Denny Indrayana, sistem proporsional tertutup dikabarkan akan berlaku pada pemilu legislatif.

Baca Juga: Sudahkah Kamu Tahu, Guys, Inilah 9 Artis Indonesia yang Bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

"Pagi ini saya mendapatkan informasi penting. MK akan memutuskan pemilu legislatif kembali ke sistem proporsional tertutup, kembali memilih tanda gambar partai saja.

Info tersebut menyatakan, komposisi putusan 6 berbanding 3 dissenting," kata Denny, dikutip PortalYogya.com dari akun Twitter pribadinya @dennyindrayana.

Kini Indonesia masih menggunakan sistem proporsional terbuka dalam pemilu legislatif. Lalu apa bedanya dengan sistem proporsional terbuka? Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Waspada Tahun Politik, Followers Partai Demokrat Drop Seketika, Ternyata Ini Penyebabnya

Dikutip dari Wikipedia, sistem proporsional terbuka akan melibatkan pemilih dalam menentukan proses penentuan urutan calon partai yang akan dicoblos.

Hal ini berbeda dengan sistem proporsional terbuka yang memberikan kewenangan hanya pada partai atau konsulyan dalam proses penentuan urutan calon yang akan dipilih.

Rakya atau pemilih tidak diberi kesempatan untuk turut menentukan urutan atau posisi calon yang akan dipilih.

Baca Juga: Hati-Hati! Penipuan Tawarkan Pekerjaan Frelance Like dan Follow Akun Instagram, Kenali Modusnya

Sistem proporsional terbuka turut memungkinkan pemilih untuk mencoblos individu atau foto calon, tidak hanya gambar partai.

Pilihan dari pemilih ini juga disebut dengan pilihan berdasarkan preferensi. Misalnya ada 4 pilihan calon yang mendapatkan 5 persen pilihan preferensi di tingkat regional.

Halaman:

Editor: Yongky Gigih Prasisko

Sumber: Wikipedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X